Homeschooling dikecam oleh Daoed Joesoef

Saya agak kaget ketika membaca Kompas edisi 9 Juni 2007, membaca kolom opini yang ditulis oleh Daoed Joesoef, dimana isinya sangat menyerang homeschooling dengan berbagai FUD / half-truths / dll. Sekalinya baca Kompas, langsung ketemu artikel begini. Versi onlinenya bisa dibaca disini.

Beberapa kutipan :

Bila pendidikan privat jenis ini memarak dan menjadi pengganti (alternatif) pendidikan sekolah formal, dalam jangka panjang ia akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat (homo socialis).

Jenis sekolah rumah seperti inilah yang sebaiknya tidak dibiasakan karena bisa merusak pertumbuhan anak menjadi manusia yang bermasyarakat.

Daoed Joesoef Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III, 1978-1983

Ada banyak paparan yang menjelaskan berbagai pendapat simplistis dari Daoed Joesoef di atas dari milis sekolahrumah. Beberapa di antaranya saya lampirkan di bawah ini :

Seburuk Itukah Sekolahrumah?

Tulisan Prof. Dr. Daoed Joesoef di harian Kompas (Sabtu, 9/6/2007) mengenai fenomena sekolahrumah (homeschooling) layak untuk diapresiasi sekaligus dikritisi. Sebab, banyak paparan yang disampaikan dalam tulisan itu yang tak hanya bersifat simplifikasi, tetapi juga menempatkan model pendidikan sekolahrumah tak selayaknya. Seolah, para praktisi pendidikan sekolahrumah bersifat asosial dan praktek belajar yang dilakukan sehari-hari dalam sekolahrumah melawan norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Labelisasi asosial pada anak-anak sekolahrumah adalah sebuah stigmatisasi yang sangat tidak layak diterapkan.

Substansi Pendidikan Sekolahrumah

Membaca tulisan Prof. Dr. Daoed Joesoef mengenai sekolahrumah, dikesankan bahwa praktek belajar sekolahrumah hanyalah belajar di rumah, oleh orangtua saja, dan anak tidak melakukan pergaulan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Narasi yang disampaikan itu sangat asing bagi praktisi sekolahrumah dan sangat jauh berbeda dengan kenyataan praktek sekolahrumah yang dijalani sehari-hari oleh para praktisi sekolahrumah.

Berbeda dengan sekolah formal yang ditandai dengan model pendidikan massal dan seragam, model pendidikan sekolahrumah bercirikan pendidikan terkustomisasi. Praktisi sekolahrumah berusaha mengembangkan dan mendorong potensi individual anak yang selama ini tak dimungkinkan dalam model sekolah formal pada umumnya. Dalam keseharian proses belajar, praktisi sekolahrumah menggunakan beragam sarana, baik yang ada di keluarga maupun sarana publik dalam proses pembelajarannya.

Dengan mengambil slogan “belajar di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja”, para praktisi sekolahrumah justru sedang berusaha memasuki esensi-esensi proses belajar. Belajar tak harus menempat di sebuah ruang tertentu (bangunan sekolah), waktu tertentu (jam sekolah), dan oleh sosok tertentu (guru). Proses belajar menggunakan kehidupan nyata sehari-hari merupakan contoh praktek belajar sekolahrumah yang menggunakan pendekatan unschooling.

Demikianlah, model sekolahrumah memang menolak monopoli sekolah sebagai satu-satunya institusi yang berhak menyelenggarakan pendidikan. Sebab, makna pendidikan sebagaimana yang juga diamanatkan dalam UU No. 20/2003 jauh lebih luas daripada sekolah. Sekolah hanyalah salah satu moda untuk menyelenggarakan pendidikan. Secara khusus, sekolahrumah atau pendidikan berbasis keluarga dijamin eksistensinya dalam pasal 27 ayat 1.

Model Sosialisasi

Kritik terhadap sosialisasi yang diselenggarakan pada sekolahrumah bukanlah sebuah hal yang baru. Di Amerika Serikat yang memiliki tradisi sekolahrumah lebih matang (sekitar 3 juta siswa dengan pertumbuhan sekitar 15% per tahun) pun, kekhawatiran terhadap sosialisasi anak-anak sekolahrumah belum dapat ditepis seluruhnya. Kekhawatiran itu umumnya muncul dari para profesional yang bekerja di lingkungan sekolah formal. Persepsi itu sangat kuat melekat pada masyarakat umum yang melihat proses sekolahrumah dari kejauhan.

Berbeda dari persepsi umum mengenai adanya masalah sosialiasi anak-anak sekolahrumah, berbagai penelitian yang dilakukan justru menunjukkan sebaliknya. Anak-anak sekolahrumah memiliki beragam kegiatan sosialisasi teman sebaya maupun keterlibatan di masyarakat yang ada di sekitarnya. Menurut penelitian, keterlibatan sosial anak-anak sekolahrumah lebih baik dibandingkan dengan teman-teman mereka yang belajar di sekolah umum. Diantara penelitian itu
dilakukan oleh Dr. Brian Ray, presiden dari the National Home Education Research Institute (NHERI) terhadap 5,402 siswa sekolahrumah di Amerika Serikat.

Model sosialisasi di dalam pendidikan sekolahrumah memang berbeda dengan model sosialisasi sekolah yang mengasumsikan kebutuhan pengelompokan teman seumur- sebuah asumsi yang dikritik Ivan Illich sejak tahun 1970-an. Dalam model sosialisasi sekolahrumah, anak lebih banyak terekspos dengan model sosialisasi lintas-umur, baik saat dia belajar di rumah, komunitas, masyarakat, organisasi, tempat magang, maupun tempat-tempat belajar lain yang ada di masyarakat. Ekspose dengan sosialisasi lintas-umur itu bagi para praktisi homeschooling justru
dinilai sebagai kekuatan karena merupakan cermin dari realitas masyarakat yang sesungguhnya.

Dengan ekspose yang luas pada pergaulan lintas-umur sejak dini, anak-anak sekolahrumah menjadi terbiasa dan matang dalam pergaulan. Anak-anak sekolahrumah tidak perlu mengalami proses adaptasi saat memasuki dunia kerja, sebagaimana yang dialami anak-anak sekolah yang terbiasa dengan sosialisasi teman sebaya. Pada anak sekolahrumah, inisiasi nilai-nilai kemasyarakatan terjadi selama proses belajar lintas-umur yang terjadi sepanjang hari, baik di keluarga, komunitas, masyarakat, dan dunia nyata tempat belajarnya.

Untuk sosialisasi teman sebaya yang juga dibutuhkan dalam perkembangan psikologis, anak-anak sekolahrumah biasa melakukannya melalui kegiatan di komunitas, field trip, tutorial, klub, ataupun kursus-kursus yang diikutinya.

Perbaikan Mutu Pendidikan

Pertumbuhan sekolahrumah justru sebenarnya menunjukkan sebuah pertanda baik di masyarakat. Ada beberapa alasan untuk mendukung hal itu:

Keterlibatan aktif orangtua di dalam pendidikan adalah sebuah hal yang sangat positif. Keterlibatan itu mengimplikasikan tercurahnya sumberdaya keluarga secara maksimal untuk pendidikan anak, bukan hanya secara material, tetapi juga secara psikologis yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak. Kecenderungan ini lebih baik dibandingkan ketidakpedulian orangtua pada saat ini yang menggantungkan masa depan pendidikan anak pada para guru dan sistem sekolah. Kesediaan keluarga untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam proses pendidikan adalah modal besar untuk perbaikan dunia pendidikan.

Sekolahrumah mendorong pendidikan untuk masuk pada esensi dan substansi pembelajaran. Sekat-sekat tempat, waktu, dan sumber belajar dapat dicairkan. Infrastruktur yang diperlukan dalam pendidikan model sekolahrumah pun menjadi lebih sederhana dan tidak semahal infrastruktur yang diperlukan dalam pengembangan sekolah formal yang ada pada saat ini.

Sekolahrumah mendorong fleksibilitas pembiayaan pendidikan yang saat ini dirasakan semakin mahal oleh masyarakat dan terindikasi komersialisasi. Selain membuang aksesori-aksesori pendidikan yang semakin membebani masyarakat, praktisi sekolahrumah terbiasa menggunakan kreativitasnya untuk mendapatkan berbagai bahan dan metode belajar yang sesuai dengan keadaan keuangannya tanpa harus menurunkan standar kualitas pendidikan bagi putera-puterinya.

Di Indonesia, model pendidikan sekolahrumah masih berumur sangat muda. Dalam jaminan Konstitusi dan UU Sisdiknas, diperlukan kelapangan dari semua pihak untuk melihat perkembangan sekolahrumah yang sudah terbukti efektif bagi keluarga Indonesia untuk meraih tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkannya.

Penulis:
Sumardiono,

praktisi sekolahrumah,
penggiat Jaringan Pendidikan Berbasis Keluarga,
beralamatkan di http://www.sekolahrumah.com,
moderator milis sekolahrumah (http://www.yahoogroups.com/group/sekolahrumah).

Berikut ini sebuah komentar yang menilik latar belakang Daoed Joesoef :

Ah, Daoed Joesoef!

Saya pikir wajar saja kalau Daoed Yoesoef menulis ttg homeschooling seperti tulisan di Kompas itu. Sangat wajar malah. Karena siapa yang tak kenal beliau sebagai mantan menteri pendidikan dan kebudayaan pada 1978-1983?
Beliaulah orang yang paling bertanggung jawab atas hancurnya tata laksana pendidikan di negeri ini.

Konsep kurikulumnya melahirkan generasi Indonesia (ya generasi kita2 inilah) yang cuma menilai sukses dari ukuran jabatan dan harta.

Masih ingat NKK?BKK?
Beliau ini pulalah yang menelurkan konsep NKK/BKK. Sebuah kebijakan yang sangat diktatoris, membelenggu kebebasan, daya nalar dan daya pikir sekaligus menghancurkan kehormatan individu.

Kendati bergelar dua doktor dalam bidang keuangan dan hubungan internasional (1967) serta ilmu ekonomi (1973) dari Universitas Sorborne, Prancis, sangat jelas beliau ini bukan sosok yang kredibel dalam bidang pendidikan. Dan birokrat seperti beliaulah yang ditunjuk Soeharto untuk mengarsiteki pendidikan negri ini.
Sekarang, kita sedang menuai hasil beliau!

Lihatlah sistem pendidikan kita, yang sudah kacau sejak peletakan batu pertama. dan beliaulah salah satu birokrat negri ini yang mesti bertanggungjawab!

Jadi, kalau daoed yoesoef berpikir bahwa HS bukanlah pilihan yang realistik, sudahlah, kita mesti maklum.
Karena, bukankah dia tak mengenal arti kebebasan? ingat NKK-BKK. bukankah dia tak mengenal arti pendidikan yang sesungguhnya? Ingat (masih gagasan) kebijakannya yang ingin memisahkan pelajaran agama dari sekolah2 umum? thank’s God it’s not happen!

gemas rasanya kalau melihat mantan pejabat negri ini masih berani berkoar-koar, dan semua yang dilakukannya tak pernah dia sadari bahwa itu sebuah kesalahan!

seekor burung dalam sangkar, tak mungkin terbang kan?

salam,

97 thoughts on “Homeschooling dikecam oleh Daoed Joesoef

  1. You really listen to what Daoed Joesoef has to say?

    He is a dinosaur and his mind is no longer valid for today’s exciting era of home/boat schooling.

  2. Homeschooling bisa baik, bisa tidak. Tergantung penerapannya. Yang jadi persoalan, banyak keluarga yg menerapkan homeschooling krn didasari pertimbangan dogmatis. Misalnya, tidak ingin anak2nya diajari teori evolsi Darwin, atau tidak ingin mereka bergaul dg anak2 yg tidak seagama. Ini akan memunculkan persoalan di kemudian hari, krn anak2 jadi tidak terbiasa menerima perbedaan, dan cenderung punya cakrawala berpikir yg terbatas.

  3. @dhani – betul mas, ini justru akan membuat anak jadi picik. Sosialisasi dengan lingkungan jangan sampai terluputkan dari program homeschooling.
    .
    Masalahnya, pada artikel DJ tersebut langsung divonis bahwa homeschooling == anti sosial. Wah, saya kira ini juga tidak benar.
    .
    Trims.

  4. mungkin saat ini “seperti apa homeschooling” lum byk diketahui masyarakat luas sehingga perlu sosialisasi(promosi) lebih gencar lagi agar masyarakat tau alternatif dalam menuntut ilmu. Bayangin aja mas, seorang doctor-mantan pejabat-dan tinggal di kota memiliki pandangan seperti ini, gimana lapisan bawah??

  5. Jangan-jangan yang berkomentar itu punya anak yang asosial karena homeschooling hehehe.

    Tetapi secara umum memang ini yang sering dipertanyakan dan dikhawatirkan orang mengenai homeschooling, bagaimana dengan pergaulan mereka sebagai anak didik. Tidak bisa dipungkiri bahwa “berteman” atau bersosialisasi bisa lebih terjadi jika anak didik tersebut disekolahkan di sekolah-sekolah umum. Hanya ada minusnya juga, bagaimana kalau salah dalam pergaulan?

    Intinya sih, balik lagi … peran orang tua sangat memegang peranan dalam hal ini. Setuju ….

  6. Post yang sangat menarik. Sayang di akhir postingan terjebak pada ad hominem. Ada baiknya kita tidak menilai pribadi yang mengeluarkan komentar dan fokus pada argumennya valid atau tidak.

    Btw mau nanya,
    Model sekolahrumah ini ada pertemuan besarnya ya?
    Saya kok belum paham cara pembelajarannya. Tapi kayaknya menarik.

    *Mencoba mencari tahu ke websitenya sekolahrumah*

  7. setuju dengan dhani yang bilang HS bisa bagus bisa tidak. Ya sama dengan sekolah “biasa” yang juga bisa bagus dan bisa tidak. Kita tidak usah apriori dengan yang mana pun. Periksa dulu detilnya. Tapi saya sih menyambut baik adanya berbagai konsep/praktik yang memungkinkan berlangsungnya pendidikan di luar sekolah biasa mengingat sangat banyaknya anak/remaja/dewasa yang dengan berbagai sebab tidak bisa sekolah di sekolah biasa. Malahan berbagai kombinasi antara HS dan SS semestinya diperbanyak sehingga masyarakat dapat memilih yang terbaik untuk keadaan mereka yang spesifik.

  8. homeschooling, sptnya hal yg baru… namun utk tingkat degree (S1) sebenarnya Pemerintah sudah menerapkannya sejak tahun 1984. masih ingat dengan Universitas Terbuka ? itu sebuah bukti homeschooling. para pelajarnya pun dari berbagai umur, kalangan profesi, maupun sosial.. terlebih di era yg serba informatif skrg ini.. tampaknya homeschooling bisa menjadi salah satu alternatif pendidikan.

  9. public schools are SUCKS!!
    kayaknya home schooling asik jg tuh!
    public school tu gk asik, gk da kebebasan berekspresi, gaya ajar guru2 nya pasif.
    gk Qualified bgt, coz anak2 cerdas tu dicampur dg ank biasa, jadi kayak kandang kambing gitu!
    Huhhh…! pokok na sUckS bgt Deyh!

  10. menurut saya HS ga jelek2 banget. kita bisa terapkan HS ke anak2 sesuai dgn kebutuhan anak. misalnya ada anak dg kebutuhan khusus yg ga memungkinkan dia sekolah umum, bisa dapet pendidikan dengan HS. Atau
    tapi untuk anak yg ortunya sibuk kerja di luar rumah, susah juga kalo pake HS. bukankah HS menuntut ortu 100 % terlibat dlm pendidikan anak?
    Saya menyarankan adik ipar saya untuk menerapkan HS ke anaknya yg umur 2 thn. Adik Ipar saya punya usaha toko plastik yang ditunggu pegawainya. jadi menurut saya dia bisa HS ke anaknya. iya gak?
    So… sekali lagi, HS bisa dipake sesuai kebutuhan. hidup HS!!!

  11. buat saya homeschooling adalah salah satu solusi dari rendahnya mutu kurikulum pendidikan kita saat ini.
    saya berkeyakinan kalau revolusi pendidikan di indonesia akan di mulai dari pendidikan non formal seperti homeschooling dan kursus luar sekolah…

    bagaimana pendapat anda ?

  12. saya rasa semua ada baik dan ada buruknya. sekolah formal juga bukan sesuatu yang buruk toh kita2 yg dulu ikut sekolah formal bisa “berhasil” maju seperti sekarang… banyak yg jadi insinyur… dokter, dsb. cuma memang saat ini wawasan masyarakat masih sangat minim dengan konsep home schooling. artinya ketika orang tua memutuskan untuk memberikan home schooling untuk anak2nya maka harus disiapkan segala media dan fasilitasnya. Anda bayangkan bagaimana jika orang di pedalaman pesesaan yg minim wawasan lalu memutuskan anaknya home schooling… pasti kacau pendidikan si anak. sosialisasi home schooling ini memang harus dilakukan terus menerus. perlu ada wadah dan organisasi yang menaunginya dengan benar dan mengevaluasi pendidikan sang anak dalam menjalani home schooling. karena apapun pilihannya ini menyangkut masa depan sang anak, anak kita yang merupakan masa depan bangsa.

  13. anak saya down syndrome usia 4 thn, ada curiculum yang sedang berkembang saat ini yaitu sekolah inklusi. Tapi sekolh ini memerlukan biaya yang besar, sehingga saya agak kewalahan dalam hal biaya. saya sangat setuju dengan homeschooling dan ingin menerapkan. bisa kasih saran?

  14. Sebenarnya Homeschooling itu optional, tergantung dari keluarga yang akan menjalankanya. Saya bilang optional karena tidak semua keluarga bisa cocok dalam menjalankan homeschooling. Dan mengapa saya sebutkan keluarga bukannya anak yang menjalankan homeschooling, itu karena homeschooling adalah tanggungjawab seluruh keluarga bukan hanya anak saja yang harus melaksanakannya tapi orang tua juga terlibat, antara lain dengan homeschooling orang tua mempunyai pekerjaan rumah ekstra yaitu mempersiapkan bahan/materi pelajaran untuk anaknya sehari/seminggu atau bahkan sebulan kedepan.
    Kalau dikatakan dengan homeschooling anak jadi terganggu dalam sosialisasinya, menurut saya itu salah besar! Sebagai bukti kami telah melaksanakan Homeschooling ketika anak pertama kami berumur 4,5 tahun(usia masuk TK), dan setelah 2 tahun berjalan dia tidak ada masalah dengan yang namanya sosialisasi. Dia dan adiknya berteman seperti biasanya dengan anak tetangga kami, bahkan adiknya sekarang suka minta diceritakan buku oleh orang tua temennya. Seperti dikatakan dalam postingan diatas dengan Homeschooling sosialisasi(dan bahkan belajar) itu bisa lintas umur.

  15. Artikel yang bagus; ending yang cocok. Ad hominem cara yang paling tepat buat orang sosialis, sentralis dan statist pendidikan sepertinya.

  16. Homeschooling sebenarnya hanya masalah metode belajar. Yang sering mengganggu gue adalah pada assessment kualitas pendidikannya. Gue bukan bermaksud mengatakan bahwa UAN berkualitas baik, tetapi pada kurikulum tailor-made seperti homeschooling, assessment-nya jadi agak membingungkan karena kekhasan materi yg diterima tiap anak. Apalagi disamakan dgn ujian paket A/B/C?????? Buat gue, gak bisa disamakan! Peserta paket C yang original kan orang2 putus sekolah (kebanyakan remaja akhir atau dewasa) yang mau melanjutkan pendidikan. Secara perkembangan, tuntutan terhadap mereka udah berbeda dgn anak2. PAda anak2, yang memang tugas perkembangannya adalah belajar dan mengembangkan kompetensi, kayaknya ujian kesetaraan kurang sesuai. Mungkin ada yg bisa memberi penjelasan lbh lanjut??? Jadi, aku nggak salah paham. Tenkyu…!

  17. Sebenarnya dengan metode HOMESCHOOLING dapat meningkatkan mutu dan kemampuan anak di banding dengan anak yang di Public School. “How ever, everything depend on the Person who walk with”..

  18. Selama tujuannya untuk pendidikan dan perkembangan anak, sekolah/atau lembaga pendidikan apapun harus kita dukung, namun sayangnya masih byk dari adik-adik qt yang belum bisa merasakan suatu “LAYANAN PANDIDIKAN” yg layak… Maju terus HS karena masih banyak anak “LUAR BIASA” yg tidak mendapat tempat/waktu di sekolah formal, semoga suatu saat nanti HS jg mampu menyentuh adik-adik qt dari masyarakat ekonomi lemah.

  19. Aku itukan punya VCD yang isinya profileku dari aku kecil, saat aku nyanyi, aku ikut lomba, aku sekolah, aku menari, aku wisuda sampai aku main wushu, pokoknya dan lain lain dech, yang di file PICTURE itu ada semua fotoku dan hasil karyaku plus prestasiku. Durasinya saja 43 menit.

    Buat semuanyanya yang mau tinggalin comment di blogku nanti aku undi, bakalan siapa yang menang. Semuanya gratis jadi tidak perlu ganti biaya produksi sama pengiriman, aku yang tanggung semuanya.

    Karena terbatas jadi nanti aku umumkan yang menang hanya sepuluh orang saja ya.

    Ayo buruan siapa tahu bisa menang, oh ya catatan buat muter VCDnya kalau pakai VCD Player sembarang merek bisa, tapi kalau pakai komputer jangan pakai Windows Media Player sama Winamp jadi harus selain itu. Kagak tahu tuch Oom Andi yang bikin kok bisa begitu.

    Sudah ya, aku tunggu commentnya di http://akuhomeschooling.wordpress.com. Terima kasih banyak ya.

    Cium sayang selalu dari Fafa buat semua

  20. Kepadasiapa gerangan paket C itu diberikan? Marilah kita kembali lagi ke jaman penjajahan Belanda dulu, anak bangsa kita dikelompok-kelompokan ke dalam kelompok orang pintar, dan orang setengah pintar, dan kelompok orang bodoh. Kemudaian kelompok orang pintar ramai-ramai membopdohkan bangsanya…..Luar biasa orang pintar kita.

  21. kalau yang aku tahu homescholing biasanya dilakuin oleh artis-artis
    bejibun kegiatannya.So, dia ga sempat ke sekolah umum layaknya kita-kita.But, terserah dia sih dia kan yang punya duit. justru Gurunya yang ikut kebanjiran duitnya.tapi mungkin aspek sosial yang ga didapat.seperti berteman dengan teman satu sekolah. ya ga’….

  22. I would really love to comment on your blog but, since I do not read your language we have a small problem here. I know quite a bit about homeschooling too.

  23. Gimana ya tanggapannya Kak Seto mengenai kecaman thd. HS ini? Beliau kan termasuk pelopor HS di negeri ini. Menurut saya HS bisa sebagai alternatif pendidikan kalau orang ybs tidak bisa/cocok dengan sistem sekolah yang mengharuskan kehadiran di sekolah.

  24. jahhhh, jangan sok tahu oom, mereka udah pada makan asam garam
    home schooling boleh2 aja, tapi setidaknya bijaksanalah dalam hal ini, anak2 memerlukan lingkungan sekitar yang bisa mengertikan mereka dalam posisinya, miris kalo melihat kenyataan di kota2 besar yang sudah individualistis, dengan tetangga aja mereka gak tahu,…
    sedih…., dengan sekolah mereka diajarin bermasyarakat, mereka dididik dalam lingkungan yang bervariatif, jangan sampai anak hanya menjadi kecebong yang main di air, trus keluar ke dunia nyata…, mereka ketakutan, mereka skeptis, mereka kesepian dan mereka menjadi berdarah dingin, mereka tak tahu bagaimana mengontrol EQ mereka,…, apakah orang tua tahu segalanya??? apakah para guru private tahu segalanya??? sempurnakah mereka??? dunia tidak sesempit daun kelor oom….dengan mendukung home schooling berarti mereka telah bersiap menjadi manusia yang mementingkan kaumnya saja…, lihat saja bagaimana ketika mereka harus menempatkan diri di dunia yang sesungguhnya, apalagi dunia indonesia dengan sekian ratus juta penduduknya…., aplikatif society akan mengharukan…, kasian mereka yang tidak mengenal sahabat yang kadang lebih mengerti mereka dari pada keluarganya sendiri,….

  25. Pro dan kontra wajar saja, masing-masing sistem pendidikan mempunyai kelebihan dan kekurangan tinggal bagaimana kita mampu mensiasati bagaimana menutup kekurangan sistem yang kita terapkan kepada anak-anak kita.

    Saya pribadi sangat ingin menerapkan home schooling kepada anak saya, walaupun saat ini anak saya masih berusia 3,5 tahun. Ada beberapa alasan yg belum bisa saya share di sini kenapa saya dan isteri ingin menerapkan homeschooling kepada anak-anak saya nanti.

    Walaupun sampai saat ini saya mengenal homeschooling masih dalam batas konsep, bagi saya orang yang menganggap homeschooling melahirkan generasi berkepribadian individualistik adalah pikiran yang sangat picik dan jelas tidak faham apa itu konsep homeschooling.

    Saya hanya berharap ke depan konsep homeschooling dapat lebih berkembang, lebih banyak referensi yang lahir baik offline maupun online.

  26. saya berpendapat justru dengan adanya perkuliahan sabtu minggu ini memberikan kesempatan kepada karyawan/pekerja yang mempunyai waktu sangat terbatas. jadi jangan sampai di hapus kasihan dong sudah berkorban segala-galanya tetapi tidak di akui.Saya berkeyakinan bahwa Pemerintah khususnya Dikti dapat memberikan solusinya dari semua permasalahan.Dan semboyan untuk menuntut ilmu sampai tua tidak akan hilang

  27. Dengan sistem pendidikan yang kacau balau begini, wajar kalau banyak praktisi membuka wacana HS. Tapi nanti legitimasinya gimana ya? Apa nanti ijazahnya pakai kejar paket A/B/C ?

  28. @Agung – ijazahnya nanti bisa didapatkan cukup dengan mengikuti ujian persamaan dari Depdiknas. Jadi, tetap mendapatkan ijazah resmi, sama seperti yang bersekolah juga.

  29. saya sedang hamil 5 bulan anak pertama, dan berencana memilih HS untuk insyaAllah anak2 nanti.

    pilihan ini dilatar belakangi karena ke gagapan saya dalam sosialisasi dalam masyarakat. kalau diantara teman sekolah saya termasuk populer, namun untuk sosialisasi lintas generasi saya selalu salah tingkah dan gugup, dan seperti yang biasa terjadi, teman- teman saya adalah teman di sekolah saja dan saya kurang bergaul dengan tetangga….

    dan semasa sekolah saya terbiasa belajar sendiri dirumah, dikarenakan saya memiliki minus -perkiraan saya sejak sd kelas 5- yang baru disadari saat sma kelas 2.otomatis sebagian besar prestasi akademik saya(yang cukup bagus) saat sekolah bukanlah dari bimbingan guru. dan saya merasa kalau sekolah formal itu cuma wasting time, udah sosialisasi ngga bener , ilmu juga ngga dapat.

    Namun jadi berkah tersendiri sehingga saat kuliah saya sudah terbiasa belajar sendiri tidak tergantung pada dosen….

  30. kalo saya , setuju dengan homeschooling, pinter ga nya anak tergantung dari cara belajar, cara mengajar, telaten sabar, nilai-nilai luhur dari rumah juga menunjang . sambil ngembangin bakat buat kesiapan kerja anak di masa depannya

  31. Saya sebenarnya juga tidak begitu suka dengan homeschooling, karena ya itu tadi ‘tidak bersosialisasi”, tapi tergantung orangnya juga sih. Bersosialisasi ngga harus di sekolah aja kan.
    😉

  32. HS setuju atau gak setujunya sebenarnya tinggal dilihat dari kebutuhan anak, orang tua dan keluarga…
    Contohnya kalau kita dan keluarga baru saja kembali ke tanah air setelah 10 tahun menetap disana..yang otomatis anak-anak kita lebih banyak bersosialisasi dan mengecap pendidikan ala barat…mungkin HS selama 1 tahun bisa menjadi salah satu optional cara agar mereka bisa menyesuaikan diri dengan pola pendidikan di Ind..sehingga dalam HS tersebut bisa diselipkan hiden kurikulum untuk penyesuaian budaya..baru deh di tahun berikutnya mereka masuk ke sekolah umum…
    Saya sepakat bahwa semakin banyak optional cara belajar, maka semakin kaya dan baik pula kualitas pendidikan kita..

  33. QUOTE: “Bila pendidikan privat jenis ini memarak dan menjadi pengganti (alternatif) pendidikan sekolah formal, dalam jangka panjang ia akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat (homo socialis).”

    Masuk akal juga pendapat yang disampaikan oleh Daoed Joesoef. Untuk menjadi manusia bermasyarakat, seorang anak harus berinteraksi dengan sesamanya, makhluk sosial.. Home-schooling dapat berakibat buruk bagi anak tersebut.. Pada tahap perkembangan, anak berinteraksi 60% dengan keluarga, sisanya dengan teman2 dan orang-orang di luar rumah.. Bila seorang anak mengikuti home-schooling, dia dapat kehilangan 40% interaksinya dengan orang lain..

  34. @majesty99 – dunia tidak sesempit daun kelor oom….dengan mendukung home schooling berarti mereka telah bersiap menjadi manusia yang mementingkan kaumnya saja…,
    .
    Ini dia pemikiran yang sesempit daun kelor 🙂
    .
    Daoed Joesoef menuduh bahwa Homeschooling membuat anak jadi tidak bersosialisasi.
    .
    Saya, dan banyak praktisi (PRAKTISI ya, betul-betul melakukan. BUKAN cuma cuap-cuap di media massa) homeschooling lainnya bisa bersaksi bahwa ini adalah tidak benar.

  35. saya baru tahu ada yg kontra dengan homeschooling. bagi saya, homeschooling mungkin memang belum bisa diterapkan sepenuhnya, namun ia tetaplah alternatif yang bagus.

  36. bagi saya,betul bahwa homeschooling wajib diganyang.tapi saya tidak mengganyang hs-ers.hs bikin kita ga pnj temen!bahkan hs bkin anak agak/.para pengikut hs hanya kemungkinan kecil sekali hidup kj org biasa!!!
    i am sorry karena belum pernah hs!
    dulu pintr2!

  37. Wah yang kek gini saya baru denger, nice inpo gan .. btw segala cara pasti akan di tempuh buat pendidikan ..

  38. Home schooling merupakan alternatif yang bagus menurut saya, sekarang ini anak sekolah tapi masih harus banyak ambil les ini itu, jadi apa gunanya sekolah?

  39. Di sekolah banyak anak yang stress dengan program pelajaran yang kurikulumnya semakin berat! belum lagi tekanan teman sebaya dan pergaulan buruk. Di Jakarta apalagi dengan macetnya! Homeschooling merupakan jalan keluar yang terbaik saya rasa.

  40. Pilihan antara homeschooling dengan sekolah biasa menurut saya 50-50, masing-masing ada nilai lebih dan kurangnya.

  41. Ga tau banyak tentang HS. Tapi setau saya, HS bukan berarti anak di\bekem\ terus di rumah dan belajar calistung sama ortu/guru privat.
    HS dalam gambaran saya, justru \sekolah\nya lebih luas daripada ruangan kelas di sekolahan. Dan melibatkan proses belajar 24 jam. Dalam artian, segala aktifitas anak, baik itu bermain, bertualang dan bersosialisasi adalah dalam konteks \belajar\. Dengan begitu, anak justru lebih mudah untuk dikenalkan dengan \real life\. Jadi anak ga cuma belajar di dalam kelas, dengerin guru, salin catetan di papan tulis, ulangan dll, dan pada akhirnya yang didapat hanya sederetan angka-angka, tanpa mengerti bagaimana mengaplikasikan teori2 yang dihapalnya 🙁

  42. mmm… tertarik juga sich untuk sekolah rumah…
    tapi sekolah rumah sebenernya cocok bgt buat anak dg tipe EXHIBIONIST.
    Anak saya baru playgrup juga dominan tipe itu… butuh perhatian lebih memang…
    tapi nanti akan saya coba dulu memasukkan dia ke sekolah biasa.. katanya psikolog, kalo usia playgrup masih wajar kalo dia tipe exhibionist
    Tapi tetep disamping sekolah di sekolah pada umumnya… sebaiknya Orang tua tetep harus dampingi anak..
    so, harus tetep ada “homeschooling” walau anak sekolah di sekolah umum 🙂

  43. menurut saya homeschooling cukup bagus karena lebih fokus ketimbang sekolah2 bagus yang bnyk muridny tapi kembali lagi kepada pribadi si anak apakah dapat menyerap ilmu dengan baik atau tidak..

  44. Home-schooling is perfect for children who cannot go to school because of hindrances either physical or health related reasons. This can provide children opportunity to study.

  45. Permisi …
    Ikut Comment.
    Tambah yakin dengan pilihan keluarga kami untuk HS.
    Mengenai problem sosialisasi, alhamdulillaah anak kami belum mengalaminya.
    btw, mengomentari salah satu pernyataan di comment yang telah ada : “kasian mereka yang tidak mengenal sahabat yang kadang lebih mengerti mereka dari pada keluarganya sendiri,….”

    Ehm, mengapa anak yang saya kandung malah sahabatnya yang lebih mengerti dibandingkan saya ? Wah bukannya lebih baik ortu sendiri yang lebih mengerti akan anak ya ?

    sekedar imho.

  46. fenomena home schooloing memang menimbulkan perdebatan tersendiri, ditinjau dari segi sosial kemsyarakatan memang akan menimbulkan kelas sosial tersendiri nantinya, membedakan sekolah reguler dan sekolah dirumah, belum lagi masalah hasil dan kualitas ilmu dan sebagainya, tapi hal ini memang tidak bisa dihindari karena tuntutan kemajuan jaman yang semakin kompleks

  47. baik dan buruk tergantung dari mana kita melihatnya, dari sudt pandang apa dan berlandaskan terori apa semuanya sama aja ada baik dan buruknya

  48. kebanyakan orang tua sekarang sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah sehingga ‘menyerahkan’ sepenuhnya pendidikan pada sekolah. anak2 dididik oleh guru di sekolah, ditemani oleh pembantu di rumah.

  49. saya sependapat dengan komentar di bagian akhir tulisan ini, wajar memang jika tokoh orba daud jusuf bicara seperti itu.

  50. Saya setuju dengan yang satu ini:

    Home schooling merupakan alternatif yang bagus menurut saya, sekarang ini anak sekolah tapi masih harus banyak ambil les ini itu, jadi apa gunanya sekolah?

  51. homeschooling baik juga dilakukan kalau punya sumber daya. masalahnya tidak semua orang tua mampu, sehingga sulit diterapkan secara umum.

  52. I see so many varying opinions, most without basis, just pure social bias. A good discussion of this subject would be very rewarding I believe.

  53. This website is display the nice info in this blog and the great technology is visible in this blog and great info in this blog. I am very much satisfied by this info that to using the nice impression is visible in this blog. I was searching for some info is visible in this blog and great info is visible in this blog. Thanks a lot for using the nice impression in this blog.
    | great pharmacy diary | best pharmacy online guide | liquid diet side effects report |

  54. saya pikir kedua pihak, baik pro dan kontra sama2 benarnya. Ada benarnya juga kalau homeschooling bisa membuat anak menjadi individualis, karena kurang pergaulan sosial. Tapi saya rasa Daoed Joesoef terlalu berlebihan menjabarkannya. Home schooling juga banyak manfaatnya, salah satunya pelajaran bisa mengikuti kemampuan siswa tersebut, terutama bagi anak2 yang slow learner

  55. saya setuju dengan homeschooling mengingat pendidikan formal berdinding sekolah tdk benar2 memahami apa yg seorang individu butuhkan, cenderung membosankan, apalagi kualitas guru yg baik di suatu sekolah itu jumlahnya sedikit.. diperparah dgn adanya kurikulum yg ini itu.. sbgmn kita tau, kurikulum di negeri ini mmbuat anak didik menjadi kelinci percobaan saja… ckckcckck kapan majunya pendidikan indonesia kalau begini terus??

  56. daoed joesoef
    inget bener dulu waktu pertama jadi mentri… dia mindahin awal tahun ajaran dari yg sebelumnya di bulan januari,menjadi di bulan juli (sperti sekarang ini)
    sampe2 dikorbankan sekolahnya jadi diperpanjang setengah tahun…
    gak tahunya kurikulumnya membuat bangsa ini jadi kuli

    emang antek2 kolonial sejati nih orang

  57. saya termasuk yang mendukung homeschooling selagi anak-anaknya mengalami beberapa kondisi yang nggak memungkinkan untuk sekolah di publik biasa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *