Do What You Must, Not What You Want

Di antara sifat-sifat berbagai orang sukses, salah satu sifat umum yang saya temukan pada mereka adalah bahwa mereka mengerjakan yang harus dikerjakan – bukan yang mau mereka kerjakan.
Seperti tertulis pada judul posting ini.

Contoh; jika kita sedang memulai membangun usaha kita, dan customer masih terus berdatangan setelah jam tutup toko. Apa yang akan kita lakukan ?

Kebanyakan orang akan tetap menutup tokonya seperti biasa.

Tapi kalau kita lihat berbagai contoh; seperti di Jepang, mereka akan menunggu para customer selesai berbelanja dulu semuanya. Baru kemudian mereka menutup tokonya.

Ini juga sudah disinggung oleh Avianto pada postingnya, budaya melayani. Disitu disinggung bagaimana kita masih jarang yang memiliki budaya tersebut. Padahal sudah jelas ini perlu & penting, terutama kalau kita melihat indikator seperti bagaimana untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, produk pertanian kini dikalahkan oleh produk layanan.

Salah satu kebiasaan kita adalah mengerjakan yang kita mau; bukan yang seharusnya kita kerjakan.
Customer membutuhkan LDAP, tapi kita malah asyik oprek-oprek webserver / hal yang tidak berkaitan lainnya. Client meminta kita mengerjakan XXX, tapi kita malah mengerjakan ZZZ.
Walaupun mungkin kita lebih pintar daripada customer, tapi ini bukan cara yang benar.

Ini kalau kita spesifik bicara soal customer service / budaya melayani. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini juga tetap relevan.

Sebagai contoh; Anda adalah seorang staff bagian IT. Agar dapat maju dalam bidang ini, yang harus Anda lakukan adalah bekerja lembur tanpa gaji, memanfaatkan akses internet unlimited di kantor untuk mengembangkan wawasan Anda di bidang ini.

Nah, kalau sudah jelas demikian, namun kemudian Anda malah melakukan apa yang Anda mau, seperti bekerja sesuai jam kantor saja; maka tentu saja akan sulit bagi Anda untuk menjadi sukses.

Jadi, mari kita berhenti menjadi orang yang manja. Jadilah orang yang kuat.
Kalahkan kemauan kita, dan mulailah mengerjakan yang memang seharusnya kita kerjakan.

Semoga sukses.

25 thoughts on “Do What You Must, Not What You Want

  1. Bener banget,
    kerja di jkt, berangkat pagi pulang malam….
    gimana bisa belajar klo habis kerja plus kemacetan udah ngabisin energi…
    harus ada kemauan kuat yahh

  2. yah wajar aja kalau orang jadi lupa dengan tujuannya sendiri karena adanya fasilitas-fasilitas… mungkin kita sendiri juga pernah, tapi thanks artikel seperti ini bagus untuk mengingatkan diri kita masing-masing lagi.

  3. artikel bang harry nggak ada matinya dari masa kemasa. very very good article 🙂
    bang harry idolaku.

  4. kok agak beda ya (bertolak belakang) dengan apa yang pernah saya baca dari berbagai buku pembangkit motivasi? kalau kita mengerjakan apa yang HARUS dikerjakan, terkesan ada keterpaksaan. ada kata-kata “harus” di situ.
    tetapi kalau kita melakukannya karena kita memang INGIN melakukannya, maka jalan kesuksesan tinggal menunggu waktu. bagaimana pak?

  5. @firman: buku mana yang anda baca? Kalau buku enterpreneur ya tentunya benar kalau prioritas *ingin* diatas *harus*. Tapi kalau bekerja di perusahaan atau dibawah orang lain, tetap saja prioritas *harus* diatas *ingin* karena ada batasan ‘job description’.

    Kalau kita bekerja dalam prioritas *ingin* dan kita berada dalam perusahaan atau dibawah orang lain, maka jalan pemecatan tinggal menunggu waktu.

  6. @rinon – kemauan mengerjakan sesuatu bisa jadimakin kuat kalau kebetulan yang akan dikerjakan itu sesuai dengan keinginan kita. karena itu ideal sekali jika pekerjaan kita sesuai dengan minat & bakat kita.
    .
    Tapi kalau suatu saat kita dihadapkan pada pilihan antara ingin & harus, maka kita harus prioritaskan yang harus dikerjakan.
    .
    Contoh; dulu saya bisa main games (“wants”) nyaris setiap hari. Sampai bisa membuat strategy book untuk salah satu games yang saya senangi.
    Tapi ketika suatu saat saya harus melakukan sesuatu untuk kebaikan di masa depan (“must”), maka games bisa (dan harus) saya tinggalkan.
    .
    @jimi – idol = berhala? wah jangan, saya gak mau dijadikan berhala 🙂
    .
    @firman – well spotted 🙂 inti tulisan saya ini adalah perlunya kemampuan untuk memprioritaskan.
    .
    memang kita sebaiknya mengerjakan yang kita inginkan. Namun, ketika suatu ketika ada konflik antara “ingin”dan “harus”, well, kerjakanlah yang harus dikerjakan.
    .
    @avianto – ini juga salah satu cara pandang yang saya kira valid.
    .
    Namun terkadang sebagai enterpreneur kita pun tetap harus mengerjakan yang harus kita kerjakan.
    Misalnya; godaan terbesar bagi enterpreneur mungkin adalah untuk bersantai dan foya-foya. Ini adalah “wants”. Tapi tentunya kita sudah tahu apa yang “harus” kita lakukan disini.

  7. Assalamu’alaikum wr wb,

    Bila yang kita lakukan adalah sesuatu yang berguna bagi orang lain, kemudian kita menyampaikannya dengan kepedulian bagi keberhasilan mereka dan dengan cara yang baik – apakah akan ada orang yang sampai hati untuk menolak upaya kita?

    Bukan-kah kita hanya dapat memberikan sesuatu jika kita memiliki sesuatu? Maka yakinkan-lah bahwa Yang Maha Memberi pasti akan mencukupkan.

    Dan bila kemudian kita diijinkan untuk melayani – maka pintu yang menunjukkan ke jalan pencapaian kebintangan kita – menjadi terlontar terbuka keras dan lebar-lebar.

    Dengannya …, setelah itu perjalanan kita akan menjadi sangat terindahkan, bahkan lebih indah dari yang kita rasakan sebagai hak kita untuk menikmatinya.

    Sebuah karir yang baik biasanya di mulai dari keberserahan yang tulus, kemudian tumbuh menjadi partisipasi yang kritis, kemudian membesar menjadi perjuangan yang penuh tantangan, dan kemudian mendewasa menjadi sebuah kewenangan yang mapan dan berdaya ubah yang besar.

    Wassalam.

  8. walah apakah saya “harus” menjadi obyek ? gimana kalau saya lebih “senang” menjadi subyek ??? bisakah better service tetap berjalan ?

  9. Gile, terus terang saya agak tertohok baca artikelnya. Kebetulan lagi pas banget kondisinya. Thx for reminding Mas 🙂

  10. Hm… wouldn’t it be better kalau kita melakukan sesuatu yang kita senang? Jadi inget pidato-nya Steve Jobs, do what you love because you can only connect the dots by looking backwards, not forward…

  11. @avianto, mmm, masalahnya bukan pada entrepreneur atau karyawan, atau self employee whatsoever. tapi pada sikap dan konsep diri sih.

    jadi karyawan, kalau dia melakukan segalanya dengan terpaksa, ya buat apa diteruskan? alternatifnya, cari pekerjaan yang dia suka. bener kata oscar.

    IMHO ya…

  12. @Ferry – We are serving to become the king 🙂 paradox gak ? Sekilas sepertinya iya.
    Tapi, kalau kita melihat berbagai perusahaan jasa seperti Ernst & Young, PWC, Surveyor Indonesia, Sucofindo,dll — sebetulnya tidak juga kan.
    .
    Semua perusahaan di atas bisa besar karena mereka menerapkan good customer service.
    .
    Lalu tentu saja ada IBM – yang dulunya fokus ke produk, kemudian mereka banting setir merubah fokus ke jasa (antara lain mengantisipasi & memanfaatkan fenomena open source). Kini IBM Global Services adalah salah satu bisnis terbesar di dunia.
    .
    @ivanlanin – you’re welcome mas 🙂
    .
    @Oskar – You’re correct, indeed it would be better to do what you want.
    .
    However, when you must choose between “must” and “want”, never forget which that you must do.
    .
    Ada seorang kawan yang sangat saya hormati karena prakteknya pada hal ini. Dia ini salah satu pakar IT juga, walaupun low profile & mungkin tidak banyak yang kenal. Suatu hari dia menyimpulkan bahwa, demi masa depan keluarga & anaknya, dia musti beralih profesi.
    .
    Maka dia bergantilah profesinya, meninggalkan bidang IT yang dia cintai ini.
    .
    Tidak semua orang mampu untuk melakukan pengorbanan seperti ini. Dan karena itu saya pribadi sangat respek kepada beliau.

  13. Mungkin lebih kena kalau berpikirnya “What is the best thing we can do in this situation???” Jadi kalau contoh kita seorang staff IT, the best thing we can do dg posisi kita saat itu bisa jadi memanfaatkan sebesar2nya fasiitas kantor utk mengembangkan diri kita, memberikan usulan dan contoh konkret improvement IT di area kita, mempersiapkan diri utk pindah dari clerical stuff ke managerial stuff, dll. Waktu step2 itu dijalani, bisa jadi ada yang menarik kita (what we want), ada juga yang kita sendiri nggak begitu minat (what we must).
    Oh ya, kalimat “What is the best…” ini saya sadur dari 8th Habit-nya Covey.

  14. Kapan Harry ke Jepang ? Kok bisa ngomong begitu ? Jepang dan Indonesia itu lain. Di Jepang itu aman. Walaupun terjadi tindakan kriminal, di Jepang atau diluar dari Indonesia diselesaikan secara tuntas, si pelapor tidak ditekan dan tidak ada pertanyaan yang berbelit-belit, seakan-akan si pelapor ini adalah tersangka. Buntut-buntutnya duit-duit juga. Kita harus pisahkan, bagaimana negara kita, soal ekonomi, keamanan, situasinya macam-macam. Yang salah bisa benar, yang benar bisa salah. Ujung-ujungnya duit. Habis waktu itu untuk hal-hal tersebut.

    Menurut buku yang pernah dibaca, orang Jepang tersebut memang ulet. Disetiap tokonya atau swalayan dipintu masuk dan keluar, konsumen selalu ada penjaganya. Kalau masuk dibilang “dozo”, kalau keluar “arigato” (sorry kalau salah tulis). Apakah ada di Indonesia begitu ?

    Soal contoh pertama : kalau customernya datang ga berhenti-henti bagaimana ? Sampai kapan harus tutup ? Kita dan pegawai kan harus pulang dan istirahat. Apalagi keamanan di Indonesia tidak bagus. Orang Indonesia itu pengentar … entar. Sudah tahu tutupnya jam sekian, kenapa entar-entar saja, tidak disiplin.

    Kalau belum buka toko, sudah digedor-gedor pagi-pagi buta, mau print, kita masih banyak diurus, kenapa tidak dari kemarin, kok jadi nyusahin orang.

    Pengalaman pribadi saya (terlalu sering) sudah jelas-jelas pagar ditutup rapat, sudah ditaruh gempok walaupun tidak ditekan, kok bisa gitu customer masuk ke halaman rumah tanpa bersuara. Untung ga diteriakin maling. Kadang-kadang kita harus memberi pelajaran bagi customer untuk berdisplin, menghargai waktu dan sebagainya.

  15. ada yang lupa : menempati janji dan datang tepat waktu juga merupakan salah satu service melayani customer lho …

  16. Waduh…susahnya di titik ketika harus memilih ‘harus’ atau ‘ingin’. Saya sering menemukan ide-ide baru justru ketika melakukan hal-hal yang saya ‘ingin’kan. Ide baru itu lantas dicoba di pekerjaan yang ‘harus’ dilakukan….Kalau terus menerus melakukan hal-hal ‘harus’ kadang kebosanan melanda…Sesekali perlu juga melakukan hal-hal yg di-‘ingin’-kan…

  17. @halerata – auliahazza ? artikel saya ini tidak membidik usaha anda, tapi berbicara secara umum. Bagaimana mengaplikasikannya ke situasi anda sendiri, tentu anda yang lebih tahu.

  18. Bukan auliahazza tapi Halerata. Saya juga berbicara secara umum.

  19. @Isa – akur, selalu coba manfaatnya sebaik-baiknya semua kesempatan yang ada.
    .
    Easier said than done though, saya pun masih struggling untuk melakukannya. Karena itu saya pada awalnya hampir batal menuliskan posting ini.
    Namun, ada seorang sahabat saya yang kadang membaca blog ini dan saya lihat dia terlalu membiarkan dirinya dibawa oleh kemauannya. Dan pada saat ini pada posisi hampir terjerumus karenanya.
    Harapan saya mudah-mudahan dia membaca ini dan bisa menyadarinya.
    .
    @halerata – kalau customer datang tidak berhenti-henti, buat saja jadi 24 jam? Jadi peluang bisnis kan? Soal istirahat, bisa diakali, misalnya dengan sistim shift.
    Ada sebuah toko di sebuah kota yang melakukan ini, sudah sejak tahun 1970-an malah. Sampai sekarang usahanya masih tetap awet dan ramai.
    .
    Kita coba juga melihat dari sisi pandang customer — siapa sih yang mau keluar rumah malam-malam / pagi-pagi sekali kalau tidak butuh?
    Ketika kita menyambut mereka dengan baik, tentu mereka akan senang sekali & berterimakasih. Syukur-syukur mereka jadi merekomendasikan kita ke semua kenalannya.
    .
    Ini cuma mencoba menyarankan untuk melihat suatu masalah dari satu sisi pandang yang lainnya saja. Mungkin untuk kasus Anda perlu dilihat dari banyak sisi pandang lainnya sebelum bisa diputuskan apa tindakan yang terbaik (dan bisa saja memang ternyata harus menolak customer2 tsb).

  20. @Isa – akur, selalu coba manfaatnya sebaik-baiknya semua kesempatan yang ada.
    .
    Easier said than done though, saya pun masih struggling untuk melakukannya. Karena itu saya pada awalnya hampir batal menuliskan posting ini.
    Namun, ada seorang sahabat saya yang kadang membaca blog ini dan saya lihat dia terlalu membiarkan dirinya dibawa oleh kemauannya, dan pada saat ini pada posisi hampir terjerumus karenanya. Harapan saya mudah-mudahan dia membaca ini dan bisa menyadarinya.
    .
    @halerata – kalau customer datang tidak berhenti-henti, buat saja jadi 24 jam? Jadi peluang bisnis kan? Soal istirahat, bisa diakali, misalnya dengan sistim shift.
    Ada sebuah toko di sebuah kota yang melakukan ini, sudah sejak tahun 1970-an malah. Sampai sekarang usahanya masih tetap awet dan ramai.
    .
    Kita coba juga melihat dari sisi pandang customer — siapa sih yang mau keluar rumah malam-malam / pagi-pagi sekali kalau tidak butuh?
    Ketika kita menyambut mereka dengan baik, tentu mereka akan senang sekali & berterimakasih. Syukur-syukur mereka jadi merekomendasikan kita ke semua kenalannya.
    .
    Ini cuma mencoba menyarankan untuk melihat suatu masalah dari satu sisi pandang yang lainnya saja. Mungkin untuk kasus Anda perlu dilihat dari banyak sisi pandang lainnya sebelum bisa diputuskan apa tindakan yang terbaik (dan bisa saja memang ternyata harus menolak customer2 tsb).

  21. Bener mas Harry, saya setuju. Bagaimanapun jauhi comfort zone, agar kita bisa lebih berkembang *agak gak nyambung sih..heheu* karena salah satu hal yang buat kita jadi gak berkembang adalah kita terlalu menuruti apa kemauan kita.

    Your next process is your customer, siapapun yang akan kita layani, entah atasan, entah rekan kerja, entah bawahan, atau bahkan OB dikantor kita, semuanya kita anggap customer kita. Jadi layanilah mereka sebaik mungkin.

  22. duh, harus ya? jadi suka mikir2 dulu kalo harus…
    tapi apa kata, jika hal itu memang yang harus ditempuh, ya… harus dilakukan juga… ga ada jalan lain dan ga jalan untuk mundur…!!! semangat!!!

  23. Pingback: funktaztic.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.