Komoditasi Perempuan

Komoditasi Perempuan. :: Barusan terpaksa blokir satu lagi kawan di Facebook, karena sering memposting foto porno (perempuan setengah telanjang). 

Sudah begitu, fotonya tidak relevan / tidak ada hubungannya pula dengan isi postingnya. Benar-benar hanya pamer kulit saja.

Kawan ini pada dasarnya saya kira orang baik. Hanya saja mungkin belum paham mengenai "komoditasi perempuan" – eksploitasi perempuan sebagai obyek, menjadikan perempuan hanya sekedar sebagai benda "pameran", bahan pemuas nafsu. 

Di zaman sekarang ini, mempromosikan sesuatu itu paling mudah adalah dengan bermain psikologis; misalnya mengeksploitasi sifat-sifat dasar manusia, termasuk nafsu. 
Bisa kita lihat sendiri, betapa banyaknya perempuan yang ditelanjangi di berbagai video / foto iklan, acara promosi, dst.

Sehingga produk yang dijual menjadi laris manis. Yang laki-laki bernafsu melihat lawan jenisnya yang setengah telanjang.

Yang perempuan pun juga bernafsu melihat kecantikan para model tersebut. Ingin seperti itu juga.

Padahal, sebetulnya nyaris mustahil untuk manusia biasa. Very high maintenance :

(#) Saudara saya pernah melihat artis di make-up : memakan waktu 2 jam (!!). Mana bisa kita melakukannya setiap hari, di tengah semua kesibukan rutin yang sudah ada (dan, buat apa?) 

Dan, mukanya jadi berubah total. 
Yang tadinya seperti pembantu, berubah menjadi makhluk serba mulus mempesona.

Tapi, tentu saja, palsu.

(#) Perawatan tubuh, muka, rambut : saya tercengang ketika tahu bagaimana proses perawatan para model. Ribet bukan main + memakan waktu. Mahal, pastinya .

 
(#) Penipuan : kita pasti pernah melihat foto model di majalah, dan terbersit pikiran, "alangkah sempurna cantiknya". Seandainya kita bisa secantik / seganteng mereka.

Padahal, sebetulnya permainan 🙂 retouch / photoshop : http://i.imgur.com/mc1r4zs.gif

Ya, para model itu juga manusia biasa seperti kita juga. 
Bahkan setelah maintenance / perawatan yang bukan main ribet + memakan waktu +  mahal itupun, tetap saja tidak bisa sempurna.
Kasihan juga ya ?

Lebih baik waktu & semua usaha tersebut diarahkan ke pembentukan kepribadian kita.

Anyway, kalau kita tidak sadari permainan ini, maka, tanpa sadar kita pun akan ikut bermain juga. Seperti yang dilakukan oleh kawan saya ini.

Ini semua memang adalah trik para perusahaan advertising; bermain / mempermainkan subconcious / pikiran bawah sadar kita. 
Memang tidak mudah, masuknya secara halus sekali, dan massal / massive. Orang baik pun bisa terkecoh karenanya.

Sebagai ayah dari 4 anak perempuan, saya tidak rela jika anak-anak saya kelak menjadi korban / obyek juga. Mereka tidak boleh menjadi bulan-bulanan orang lain sekedar untuk menjual barang.

Mereka adalah manusia juga seperti kita, punya potensi manfaat besar untuk masyarakat, jika mereka bisa fokus kepada kepribadian mereka. Dan bukannya cuma kepada kecantikan lahiriah saja.

Mari bersama-sama kita berusaha lawan kultur / budaya mengeksploitasi perempuan ini.

Terimakasih.

i.imgur.com/mc1r4zs.gif

Post imported by Google+Blog for WordPress.

21 thoughts on “Komoditasi Perempuan

  1. Setuju sekali pak. Menurut saya bukan sekadar komoditasi, namun juga sudah mengarah kepada eksploitasi perempuan. Seperti masih zaman baheula saja sekarang ini.

  2. betul pak, sekarang ini banyak sekali aksi pornografi di facebook, sedangkan facebook banyak sekali dikonsumsi oleh anak sd maupun smp, bisa merusak moralitas anak2 kita.

  3. apa sepenuhnya benaar..????
    kita juga tidak tau apakah foto telanjang tersebut palsu atau rekayasa….. kalau emang benaar berati wanitanyalah yang ingin mencari sensasi…

  4. well katanya kan wanita dan pria skr sederajat, nah keindahan wanita dan keindahan pria kan berbeda. Kalo situ melihatnya dari sisi "SENI" atau "BUDAYA" atau "FASHION" yah pasti berbeda cara pandang dan pikiran melihatnya,

    lain halnya kalau otaknya sudah tercemar atau berfikir negatif, iklan ataupun image yang ada di dalam pikirannya yah negatif juga. Wong lihat wanita yang berparas cantik aja langsung timbul pikran kotor, jadi apakah itu salah si wanita tsb yang memiliki paras yang cantik?? gak kan, itu salah pola pikirnya.

    lalu apa yg dimaksud dengan komoditi perempuan ya?? jual beli perempuan?? dimananya? memperjualkan badannya maksud bapak ya?? itu salah satu PROFESI dan PILIHAN mereka kalo menurut saya, selama perempuan tsb setuju dan tidak ada paksaan menurut saya itu bukan komoditi, lain halnya dengan pemaksaan dan perjualan (HUMAN TRAFFICKING, pornografi, penjualan wanita, etc) saya sangat tidak setuju itu. tapi kalau itu untuk seni dan memang kelebihan dari perempuan tersebut, why not?

    well untuk masalah penipuan itu pinter-pinternya kita aja, gimana caranya agar kita tidak tergiur dengan adverstising yg mereka sediakan. kalo misalkan bapak punya bisnis juga, gamungkin kan bilang produk saya ini lebih lama menunjukkan hasilnya, soalnya saat ini HAMPIR SELURUH adverstising menjual hal yang bisa diperoleh secara instan, silahkan dibuktikan dari pasta gigi, obat cuci muka, sabun, etc, semua pasti ada embel-embel "Hasil dapat diperoleh dalam 1 Minggu*" lalu kita jgn lupa ada tanda bintangnya itu. itulah yang namanya trik bisnis untuk bersaing dalam dunia bisnis.

    well itulah pendapat saya, tidak ada maksud untuk melecehkan ataupun menentang, hanya menyampaikan pendapat saya pribadi. thanks

  5. Perempuan semakin mudah di eksploitasi, dan perempuan sendiri semakin mau untuk dieskploitasi demi rupiah yang memang sangat menjanjikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *