Duh.. Blue Bird

Kemarin pergi menjemput anak-anak pulang sekolah tanpa mobil. Rencananya akan pulang dengan memakai taksi. OK telpon Blue Bird, karena sering mendengar cerita seram mengenai operator-operator taksi lainnya. Dijawab oleh seorang operator yang ramah, yang kemudian mencatat nomor telpon dan alamat sekolah kami serta jam ketibaan taksi di lokasi (11:00), dan kemudian menutup pembicaraan dengan mengatakan bahwa dia akan mencarikan taksinya dulu. Fair enough, maka kemudian kami duduk dulu di kantin karena anak-anak sudah pada menjerit kelaparan sedangkan kami tidak membawa cukup makanan dari rumah.
Jam 11 lewat kami mendapat telpon bahwa taksi belum didapatkan, apakah mau menunggu? OK, gak apa-apa deh, kita sabar saja. Operator tersebut kemudian mengucapka terimakasih dan menutup telpon.

Lama menunggu, kami mulai gelisah karena anak-anak mulai kelihatan lelah. Maka kemudian saya menelpon Blue Bird lagi. “Oh, taksinya sudah menuju kesana pak”. Yay. Lah, kok enggak menelpon sama sekali sih ?!
Kita langsung pontang-panting menuju ke lokasi penjemputan yang telah disepakati.

Tapi lama menunggu disitu, tetap saja taksi belum muncul. Untung lokasi penungguannya adalah di TK nya Sarah, jadi anak-anak lupa akan lelahya dan asyik bermain-main di taman bermainnya.
Tiba-tiba handphone saya berdering.

“Hallo, ini dari pool Blue Bird pak. Lokasinya ini dimana ya pak ?”. Lah, udah dijelasin sampai mendetail ke operator yang pertama, kok ditanya lagi.
“Posisi saya saat ini di seberang UIN Syarif Hidayatullah Ciputat”,kata saya. “UIN yang di Rempoa apa bukan ya pak ?”. Errr… “umm, itu lho pak, yang bisa dilihat di pinggir jalan kalau kita menuju ke Ciputat dari Lbk.Bulus”.
Bla..bla..bla.. ternyata kesimpulannya mereka tidak tahu dimana UIN Syarif Hidayatullah itu 🙁
Padahal yang menelpon adalah pool Blue Bird di Tanah Kusir, bukan pool yang luar biasa jauhnya entah dimana, masih cukup dekat juga.

Tapi lama-kelamaan saya tersadar bahwa mungkin ini cuma cara saja agar mereka tidak perlu mengirim mobil, entah kenapa pembicaraannya berputar-putar terus disitu-situ saja. Akhirnya saya bilang “Ya sudah pak, kalau terlalu merepotkan, gak jadi saja deh”. “OK pak *klik*”
Hiks! Asma saya tiba-tiba terasa akan kumat.

Akhirnya kita mengajak Anisah, Sarah, dan Umar untuk berjalan kaki lumayan jauh ke pinggir jalan besar, dan mencoba menghentikan taksi yang kebetulan sedang lewat.
Banyak taksi yang lewat, namun sebagian besar sudah terisi dan lampu merk taksinya mati. Selagi kami melihat-lihat sambil menghisap asap tebal dari berbagai bus yang lewat, tiba-tiba terlihat oleh saya taksi Blue Bird di depan mata yang lampu merk taksinya mati – namun kosong! Argh.

Akhirnya dengan dongkol kami naik angkot 2 kali sampai tiba di rumah.
Total waktu terbuang sekitar 2,5 jam, namun lebih sedih lagi melihat anak-anak yang sudah kuyu kelelahan. Apalagi ketika angkot kami terhenti karena jalan macet, persis di belakang sebuah bus besar yang menghasilkan polusi yang luar biasa.
Duh… Blue Bird.

4 thoughts on “Duh.. Blue Bird

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *