Dilema : Open atau Tidak ?

Saya selama beberapa bulan mendevelop sebuah software POS (Point Of Sales) untuk salah satu client saya. Kini, software tersebut sudah hampir selesai, tinggal menambah beberapa modul laporan dan beberapa penyesuaian fitur. Softwarenya sendiri sudah digunakan selama berbulan-bulan di sebuah minimarket tanpa masalah yang berarti.

Nah, tadinya saya punya ide untuk merilis software tersebut sebagai open-source.
Ide ini muncul karena melihat berbagai software POS yang ada :

1. Banyak fitur penting yang tidak ada:
Karena developernya biasanya tidak begitu paham workflow di bisnis retail, sehingga kadang fasilitas vital seperti computer-assistead Purchase Order saja tidak ada. Lalu ketika kita minta menambah fitur ini, developernya men charge mahal. Padahal, sebetulnya ini keuntungan bagi mereka, karena software mereka jadi lebih lengkap fiturnya.

2. Vendor lock-in :
software POS tersebut tidak memberikan source-code. Beberapa malah menuntut adanya dongle (seperti KeyPro, Sentinel, dll) – ini menambah masalah; contoh: KeyPro tidak kompatibel dengan Windows 200x/XP, dan vendornya sudah tidak memberikan tech.support lagi untuk produk ini.
Sehingga, jika ada fitur yang kurang (lihat poin #1 diatas), maka kita menjadi sandera vendor, dimana dia bisa menentukan harga yang diinginkannya.

3. Juga, selama ini saya sudah berkali-kali mendapat pertanyaan mengenai software POS dari para pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah). Mereka membutuhkan software POS, tetapi yang harganya terjangkau.

Karena itu, saya berencana untuk merilis software POS saya ini dengan lisensi GPL.

Namun, di suatu kesempatan saya sempat berbicara panjang lebar dengan seorang developer software POS. Disitu saya baru tahu kondisi kehidupannya, ternyata cukup mengenaskan.

Saya jadi tidak tega untuk merilis software POS saya ini dengan lisensi GPL, karena saya takut justru akan jadi mematikan orang-orang seperti beliau ini (developer POS freelance).
Memang niat saya adalah (antara lain) untuk membantu mereka yang membutuhkan namun tidak mampu, tapi saya yakin imbasnya juga akan terasa kepada para developer ini. Apalagi jika software POS saya tersebut jadi terkenal, bisa tamat riwayat mereka; karena software saya kebetulan lebih lengkap dari segi fitur, dan lebih bagus dari segi kualitas. Gratis lagi.

Jadi inilah (salah satu dari berbagai) dilema saya saat ini : Open atau Tidak ?
Saat ini, saya berkeputusan untuk tidak. Tapi jika Anda punya solusi yang bijak untuk kasus ini, do please feel free to let me know.

Kembali mengenai para developer tadi – ada satu kekurangan mereka, yaitu dari segi marketing & pricing.

Pada saat ini, cara marketing mereka adalah dengan cold calling – mereka datang langsung ke calon customer, dan menawarkan produk mereka. Ini sangat memakan waktu, yang sebetulnya bisa mereka pakai untuk menyempurnakan produk mereka.
Juga dari segi pricing, karena volume sales-nya rendah (dalam sebulan belum tentu laku), maka mereka terpaksa mematok harga tinggi, untuk menutup biaya hidup mereka. Ini justru jadi mengusir customer yang tertarik, karena harganya di luar jangkauan mereka.

Solusinya adalah dengan menurunkan harga ke batas yang terjangkau oleh banyak customer. Lalu agar pemasukan tidak menurun, karena penurunan harga tersebut, maka volume sales yang harus kita harus digenjot. Caranya adalah dengan memperluas jangkauan marketing mereka (dengan cara-cara marketing yang kreatif, namun tetap etis).
Untuk developer POS yang saya kontak tersebut, saya sudah menawarkan bantuan saya untuk hal ini.

Pada saat ini di milis teknologia@googlegroups.com juga sedang dibahas berbagai ide untuk meng-“ekspor” developer lokal Indonesia ke pasar luar negeri. Mudah-mudahan usaha ini bisa menjadi kenyataan, dan membawa manfaat bagi banyak orang.

14 thoughts on “Dilema : Open atau Tidak ?

  1. Natural selection.

    Saran saya, release saja open source. Sarankan ke developer tadi untuk ikut mengembangkan yg open source ini dan makin memperbaiki fitur2nya. Dia tinggal jualan jasa customization, installation, maintenance, consulting, dsb.

    Sepertinya berkesan kejam, tapi itulah alam. Walaupun kita skrg berniat baik melindungi dia, tapi kita tidak bisa selalu melindungi dia dr *orang lain* yg merilis product POS open source di masa depan.

    Natural selection.

  2. Walaupun produk Mas Harry enggak di buat open, di luar sana banyak sekali produk yg sama dan gratis juga.
    Mungkin saran saya, cari yg “Keburukannya” paling sedikit Mas 🙂

  3. Direlease opensource atau tdk IMO tdk akan banyak mempengaruhi penjualan produk POS lain, justru mungkin developer tsb bisa menjual jasa untuk customisasi atau support.

    Kalau bukan mas harry, mungkin akan ada org lain yg membuat produk opensource jadi tdk banyak bedanya.

  4. #1 – natural selection / akan ada yang lainnya yang membuat POS open-source; saya kebetulan sudah mengamati selama beberapa waktu mengenai topik ini, dan setahu saya, yang membuat produk POS sbb:

    1. Berbahasa Indonesia
    2. Mudah digunakan
    3. Lengkap fiturnya
    4. Kualitasnya bagus
    5. Open source

    Itu belum ada.

    Memang sudah ada yang memiliki beberapa dari poin di atas, tapi, belum ada yang memenuhi semuanya.
    Jadi kalau ada yang seperti itu, apalagi marketingnya bagus (word of mouth, orang2 saling merekomendasikan karena puas dan biayanya terjangkau), maka bisa langsung menghabisi semua yang ada.

    Mengenai akan ada yang membuatnya – saya agak ragu, menilik situasi ekonomi Indonesia saat ini. Yang mungkin membuat seperti ini mungkin perusahaan berukuran sedang / agak besar, namun saya tidak bisa membayangkan apa insentif mereka melakukan ini.
    Pada intinya – saya tidak yakin akan ada software POS open source yang memenuhi point #1, apalagi semua poin diatas.

    Mengenai pemasukan dari jasa kustomisasi / support – pengalaman saya, kebanyakan pihak di Indonesia masih tidak menghargai jasa ini.
    Orang kita, apalagi yang keuangannya pas-pasan seperti UKM, cenderung lebih menghargai produk, terutama yang tangible/nyata. Jadi, produk yang rada intangible, seperti software, itu juga kadang masih sulit untuk dijual dengan harga layak.

    Jadi kalau menilik situasi di Indonesia, saya masih belum merasa yakin bahwa ide ini akan aman bagi semua pihak.
    Thanks anyway atas inputnya – kalau ada masukan lagi, just comment.

  5. Saya setuju dengan Ronny, dan sebaliknya setuju pula dengan tanggapan harry. Termasuk mengenai rendahnya nilai jual jasa kustomisasi atau support. Namun sebetulnya setahu saya tidak rendah – rendah amat. Sebagai contoh banyak kok pedagang komputer yang dapat lumayan dari jasa support ini, padahal yang dilakukannya cuma scan virus, install windows dan ms office, dan sejenisnya. Yang perlu digalakkan untuk di Indonesia adalah jangan jadi spesilis software saja. Cara berpikir kebanyakan pengguna di Indonesia masih belum jelas membedakan antara software dan hardware 🙂 Jadi mesti jualnya all-in-one support, jangan hanya support untuk software, apalagi cuma untuk aplikasi tertentu saja.

  6. Setuju dengan Harry, di Indonesia masih sulit kalau mengharapkan jasa customization dalam bidang software. Jangan disamakan dengan jasa support seperti yg diungkapkan #6, beda (dari segi biaya yang dikeluarkan peminta jasa).

    Saya usulkan, bikin CLOSE SOURCE dulu, bikin sebagus mungkin, se-fleksibel mungkin, lengkapi fitur-fiturnya. Jual dengan harga terjangkau, tidak harus murah, tapi bisa dicicil misalnya, atau dijual beserta hardware. Beri insentif, misalnya free upgrade? free technical support for X first months/years? dll.

    Galakkan marketing, manfaatkan “affiliate” misalnya, beri komisi ke mereka supaya mereka juga gigih berusaha.

    Karena (menurut Harry) saat ini aplikasi POS ini bisa dianggap yang terbagus, ya “manfaatkan dulu” peluang yang ada. Apabila nantinya muncul produk OPEN SOURCE (kapan?) yang bersaing, ya pikirkan nanti ! Ubah juga jadi open source, why not? 🙂 Tapi ini nanti, tidak sekarang.

  7. seperti yang pernah loe tulis sendiri di milis teknologia, nggak ada pesaing berarti bisnisnya itu udah salah.
    kalo mencontoh dari komik kung fu boy, jangkrik yang tinggal di dalam kotak hanya mampu melompat setinggi kotak tersebut. jangkrik yang tidak terkurung bisa melompat jauh lebih tinggi.

  8. Setelah saya pikir-pikir, mungkin yag terbaik kira-kira begini:

    1. Bantu developer POS ybs untuk go international. Beberapa hari yang lalu saya sudah mengkontak ybs soal ini, dan ybs tertarik untuk melakukannya, setelah menyelesaikan beberapa komitmen yang masih pending.

    2. Umumkan rencana untuk open source software POS saya, berikut dengan tanggal rilis. Ini agar para developer POS bisa bersiap-siap / punya waktu berbulan-bulan untuk mengantisipasi ini.

    3. Para developer POS bisa mendapatkan source code sebelum tanggal rilis.

    4. Setelah rilis, akan ada satu halaman, dimana disitu terdaftar informasi kontak berbagai developer, yang bisa membantu untuk customization / instalasi / training / customer service untuk software POS ini.

    Mungkin ini jalan tengah yang cukup tepat.

    Trims untuk berbagai masukannya.

  9. He he he ….. kalau pada nggak punya duit diem saja, jangan sok ingin beli software. Kalau bth software ya, harus berkorban dong bermodal untuk beli. Kita sekolah tinggi2 belajar untuk jadi seorang programmer ternyata sudah jadi dibuat gratis. emangnya software milik nenek moyangmu. Hidup ……. anti open source. Ndeso ….

  10. Belagu loe, sok punya banyak duit. Kalau sudah miliarder baru bicara open source. baru punya sepeda kumbang saja sudah bicara open source ……………….. ndeso,

  11. Kalau bth software ya, harus berkorban dong bermodal untuk beli

    .
    Mudah-mudahan semua software di perusahaan Anda dan di komputer yang dijual perusahaan Anda semuanya beli (dan bukan bajakan) 🙂

  12. Kalo boleh tahu pakai bahasa pemrograman apa ya ?
    saya berminat untuk bisa belajar dari source code atau mungkin aplikasinya (kalau tidak jadi open source) …
    yang ingin saya pelajari adalah seluk beluk pada sistem POS tersebut dan kalo mampu membuat program yang sama baiknya atau lebih baik lagi.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.