Dijodohkan? Siapa takut!

Beberapa waktu yang lalu saya beruntung bisa menghadiri acara pernikahan 2 kawan saya. Mempelai pria nya ganteng, sukses dalam bisnis. Mempelai wanita nya cantik & pintar. Kedua-duanya shalih baik agama maupun akhlaknya, dan juga masih muda (20-an tahun). Dan, mereka pada awalnya dijodohkan.

“Dijodohkan” bukannya kawin paksa lho πŸ™‚ , tapi dibantu bertemu pertama kalinya oleh kedua orang tua mereka.
Ini sangat menarik, di tengah stigma buruk perjodohan, kedua insan, yang secara logika tidak akan kesulitan menemukan peminat dari lawan jenisnya, justru memilih jalur ini.

Ada beberapa kelebihan proses perjodohan dari pacaran biasa :

[ 1 ] Tujuannya jelas : bukan cuma sekedar “random encounter”, namun adalah perkenalan dengan lawan jenis yang sesuai dengan kriterianya.

[ 2 ] Pilihan yang lebih banyak : para orang tua kita (atau mak comblang lainnya) biasanya sudah memiliki jaringan yang jauh lebih luas daripada kita. Nah, karena itu mereka juga punya pilihan yang jauh lebih banyak.
Dimana kita mungkin sehari-hari hanya bolak-balik dari rumah ke kantor, sehingga lingkaran jaringan kita pun sangat terbatas.

[ 3 ] Obyektif : jika orang tua kita bijak, ditambah dengan pengalaman hidup mereka yang jauh lebih kaya daripada kita, maka kans kita untuk mendapatkan calon pasangan yang baik dari mereka menjadi meningkat secara drastis.

Pada para pasangan yang pacaran, penilaian kepada calonnya tentu cenderung bias / baik saja. “Pacar gue”, gitu lho, masak ada cacatnya sih πŸ™‚
Buntutnya tentu bisa berbahaya, sedangkan sesal kemudian tidak berguna.

[ 4 ] Aman : dengan memanfaatkan jaringan & pengalaman mereka, maka biasanya orang tua lebih mampu untuk membantu menemukan calon pasangan yang reliabel bagi kita. Mereka bisa lebih mudah melakukan crosscheck dengan banyak pihak.
Bandingkan jika kita pacaran dengan seseorang yang tidak kita ketahui sebelumnya, ditambah dengan kesibukan kita sehari-hari, mungkin kita akan sulit untuk menilai & memeriksa latar belakang dari calon pasangan tersebut.

Alhamdulillah dengan perjodohan dari kedua orang tua, maka kedua insan yang ideal ini bisa bertemu dan saling kenal, dan kemudian berlanjut ke panggung pelaminan. Doa saya untuk kedua mempelai agar mereka berdua dapat hidup berbahagia sepanjang hayat mereka, amin.

So, dijodohkan? Siapa takut !

Bacaan terkait :
[ Buruan nikahi gue]

40 thoughts on “Dijodohkan? Siapa takut!

  1. Salam Selamat buat yang dijodohin. Semoga menjadi keluarga sakinah.

    Iya, buka friendster terus lihat profilnya hahahaha. Kalau dilihat dari paragrap pertama, yah jelas Mas Harry, pada mau. Cowok ganteng, Ceweknya Caem. Cocok dah.

    Kalau *maap* salah satunya kurang cakep? biasanya belum apa – apa udah kabur duluan anaknya πŸ˜€

  2. iya juga yah pak harry, ternyata banyak juga manfaat dari dijodohkan, tapi mungkin harus ada masa penjajakan dulu kali yah…

    apalagi spt saya ini, hauhuauahua..

    btw saya pnah dijodohin, tapi cwenya anak SMP heheh…

  3. Temenku malah dari muda kepinginnya dijodohin, gak mau cari sendiri. Subhanallah, sekarang punya keluarga kecil sakina mawadah wa rohmah banget..
    Dulu sempet terpana ketika dia bilang, “Ah, gue sih santai aja, nanti juga dicariin sama bokap, nyokap & nenek gue. Gue udah bilang sama nenek gue, Nek pokoknya aku mau sesama suku ya nek ya…” Gubraaakkkkkk! Gak cuma kepinginnya dijodohin oleh orangtua, tapi juga kepingin yang sesuku! Bener2 memenuhi keinginan orangtua bener dah…
    Dan ternyata orangtua selalu benar! *debatable, so don’t debate*

  4. @mr.bambang — Mas Harry dulunya dijodohkan gak? πŸ˜€
    .
    Mm… enggak. Ha ha πŸ˜€
    .
    Tapi kita dulu tidak pacaran. Ketika sudah merasa cocok, ya sudah, kita sibuk dengan urusan kita dulu. (Calon) istri kuliah, sedangkan saya bekerja.
    Beberapa tahun kemudian kita baru menikah.
    .
    Oh ya, foto nikah kita ternyata dipajang terus disini.

  5. @nurasto — salah satunya kurang cakep? biasanya belum apa – apa udah kabur duluan anaknya
    .
    Bener mas, zaman sekarang sayangnya kebanyakan kita terlalu melihat kulit. Bukan isinya.
    .
    Salah satu hobi saya adalah menunjukkan foto-foto selebritis ketika mereka tidak pakai make-up. Pada kaget, karena ternyata sebetulnya jelek-jelek kok πŸ˜€ Kadang pembantu bisa lebih cantik dari mereka.
    Cuma menang di make-up saja.
    .
    Bayangkan gimana kalau Anda menikah dengan orang seperti itu — malam pertama, sudah gemas, lalu istri anda berpaling…. huaaaa, tidak ada alisnya, bopengnya kelihatan semua, dst. He he πŸ˜€
    .
    Jadi, lihat isinya. Kecantikan yang kita lihat itu seringkali palsu.
    Kalaupun memang cantik, paling dalam beberapa tahun sudah mulai hilang. Betul tidak?
    .
    Tentang make-up — saya sendiri tidak pernah menyuruh istri saya pakai make-up. Kesian, repot dia. Pede aja, tanpa make-up, keluyuran kemana-mana.
    Hidup itu mudah, kenapa dibuat jadi susah ? πŸ˜‰

  6. @arizane – mungkin harus ada masa penjajakan dulu kali yah
    .
    Wah, ini yang ketinggalan di posting saya πŸ™‚ iya, betul sekali.
    .
    Dijodohkan itu cuma proses awalnya saja. Selanjutnya kedua calon tersebut yang melanjutkan. Coba jajaki, apakah ini kira-kira memang cocok untuk saya?
    .
    Kalau tidak, ya tidak jadi, dan no hard feeling. Kalau rasanya cocok, ya diteruskan ke pelaminan.
    .
    btw saya pnah dijodohin, tapi cwenya anak SMP heheh…
    .
    Wuih, ini dia mazhab daun muda, he he πŸ˜‰

  7. @edo – btw, emang uda harry dulu nikah juga dijodohin?
    kekekek
    *ngga nyambung yah?

    .
    Nyambung banget kok. Menohok banget juga πŸ˜€

  8. @daus – saya dan istri dijodohkan oleh mIRC, hehehe…thanks to internet.
    .
    Mantap ini om Daus. Senang mendengarnya.
    .
    Kawan saya soalnya ada yang apes, dia sudah beli tiket ke Amerika, ternyata kawan chattingnya berbeda total dari yang disebutkan.
    Dia kembali tanpa hasil, tabungan berkurang, dan hati yang remuk redam.
    .
    Mudah-mudahan kisah sukses seperti om Daus ini bisa tambah banyak. Mungkin bisa berbagi tips-tipsnya? (wah topik posting yang menarik kayaknya nih πŸ˜‰ )

  9. @Riana – Dan ternyata orangtua selalu benar! *debatable, so don’t debate*
    .
    Tapi menurut saya…. ah, sudahlah πŸ˜€
    .
    (saya sendiri sering dikoreksi oleh anak-anak saya, dari yang umur 4 tahun s/d 10 tahun, he he)

  10. @samsul – jodoh memang tidak disangka dari mana datangnya.
    .
    Akur 100% mas. Sampai sekarang saya masih rasanya tidak percaya bisa jadian dengan istri saya. Saya sering bercanda, “wah kita kayak pasangan beauty & the beast (= saya πŸ˜‰ ) ya”
    .
    Ya itulah jodoh. Kalau bisa ditebak, namanya bukan jodoh tapi forced marriage / kawin paksa ‘kali ya ? πŸ˜€
    .
    @alvahendi – mau dijodohin ? **buru2 cek domain jodohblogger.com** πŸ˜€

  11. mas fehmi, kalo pertama ngedate sama mbak helen gmn ceritanya? bawa kembang juga yak πŸ™‚ ?

  12. assalamulaikum mas sufehmi

    hehehe…salam kenal…
    numpat lewat dung..permisi….

    wassalam

  13. kalau boleh meminjam analogi, kelebihan perjodohan dari pacaran biasa (kenalan sendiri maksudnya) mirip dengan kelebihan sistem aristokrasi/keturunan dari meritokrasi/kemampuan. Contohnya dalam memilih pemimpin adalah sistem monarki dan demokrasi. Sistem monarki biarpun dibilang tidak jamannya ternyata punya bbrp kelebihan:

    1. Kader & sikap kepemimpinan bisa dipupuk dari kecil dan alih kekuasaan bisa dipersiapkan. Artinya pemimpin bukan dipilih sembarangan atau hanya berdasar contingencies (dipilih karena terbatasnya alternatif) Jujur saja, di Indonesia sekarang tidak ada yang bebas KKN, tapi toh kita ‘harus’ pilih pemimpin.
    2. Pemimpin nggak usah kampanye memperebutkan suara, jadi money-politics seperti dalam pilkada skrg tidak ada (trus siapa yang bikin jembatan, mengaspal jalan dsb dong? hehehe). Juga nggak perlu program kerja dsb yang hanya mengakibatkan target jangka pendek (harus selesai dalam masa kepemimpinan)
    3. Yang terbagus lagi, sogok-menyogok untuk memperebutkan jabatan menjadi hal tidak perlu karena semua sudah ada porsinya.

    Sayang sistem ini mulai luntur, termasuk di Jogja sebetulnya punya warisan dan potensi dalam sistem ini. Alasan lunturnya karena apa, mungkin hanya karena latah.

  14. Hehehee… Mas Harry di foto nikahnya kayak tegang banget :), kayaknya mukanya gak ada yang berubah Mas ..

    Maha Suci Allah yang menciptakan pernikahan ya :), Subhanallah.

    btw baru liat foto jaman dulunya Ustad Yazid Jawwas juga πŸ™‚

  15. Alhamdulillah … πŸ™‚
    wah mirip mas sama saya cuman saya nggak minta dijodohkan .. cuman minta dicarikan … abis ta’aruf terus nadzhor (melihat pasangan) .. terus cocok .. lamar daaahh .. abis gitu .. sebulan kemudian .. nikah .. πŸ˜€ alhamdulillah sekarang dah dikaruniai 1 putri .. πŸ˜€

    so .. mas harry .. lama banget yah .. bertahun2x .. sibuk yah mas .. πŸ™‚

  16. Massssss … masih ngaji di Ustadz Yazid yah ..?? .. wah tlg sampaikan salam dari ana .. ikhwan surabaya .. πŸ˜€ ..

  17. Mas harry, alhamdulillah saya juga dijodohkan oleh imam masjid di tempat saya jama’ah. Pertemuan 5x langsung menikah. Insya Allah 3 bulan lagi segera release mk jr 1.0 πŸ™‚

  18. Ane dan pacar ane juga pelaku pertemenan, cuma yang bikin kite temenan bukan bokap atawa nyokap apalagi engkong tapi temen. Ceritanya ane temenan ama temen ane, nah istri temen ane temenan ama pacar ane, trus ama temen ane dan istri temen ane, ane dibikin temenan ama pacar ane, kejadian deh temenennya. So, sekarang ane ama temen ane yaitu pacar ane dah tambah temen, jumlahnya 4 orang. Rame dah tuh kos-kosan (maklum ane belum bisa mempersembahkan istana buat temen ane) dan temen-temen baru ane dan pacar ane, orangnya heboh-heboh, ada aja kelakuannya misalnya bikin kos-kosan ane kayak kapal pecah, bikin telinga tetangga pada sakit karena testing vokal, bikin jantungan tuan rumah (kalo ane lagi bertamu) yang hobi ngoleksi keramik, bikin “flood experiment” dengan mengarahkan selang kebun ke dalam kos-kosan, etc. btw ane cuma bisa ngucapin Alhamdulillaah ane bisa temenan ama pacar ane.

  19. Assalamualaikum Pak Harry. Terima kasih telah menjadikan artikel saya tentang sari tebu sebagai salah satu rujukan.
    Ikut nimbrung tentang perjodohan. Saya dulu dijodohkan juga, tetapi ngg segera nikah, malainkan pacaran juga selama 8 tahun. Jadi saya produk hybrid antara dijodahkan dan pacaran. Dua-duanya OK kok. Bagaimana yang menjalaninya saja.
    Peace.

  20. @funkshit – saking sibuknya sampe ngga ada waktu buat nyari jodoh sendiri gitu ya ??
    .
    Kadang-kadang lupa…. saya sudah sering melihat kawan-kawan saya yang karena terlalu sibuk meniti karir, lupa untuk memikirkan jodoh.
    .
    Baru sadar ketika usia sudah mulai uzur.
    .
    Sialnya ketika mereka minta tolong dicarikan, malah diledek oleh kawan2 mereka sendiri. Stigma perjodohan adalah : dijodohkan === karena tidak “laku”.
    .
    Padahal, seperti contoh di posting ini, asumsi tersebut jelas tidak mungkin 100% selalu benar.

  21. @dimas – wa’alaikumsalam wr. wb, salam kenal juga mas.
    .
    @tintin – so .. mas harry .. lama banget yah .. bertahun2x .. sibuk yah mas ..
    .
    Ketika itu saya baru mulai meniti karir, dan calon istri saya juga masih kuliah. Jadi ya kita fokus dulu ke urusan kita masing-masing πŸ™‚

  22. @loeboe – hebat euy, dari posting soal perjodohan bisa ditarik relevansinya sampai ke topik monarki πŸ˜€
    .
    Saya setuju bahwa sistem monarki juga ada kelebihannya. Terutama karena masa jabatan yang seumur hidup, maka program-program jangka panjang jadi bisa dijalankan.
    .
    Berbeda dengan sistim demokrasi yang masa jabatan hanya sekitar 4 tahun :
    .
    1. fokus adalah ke quickfix / shortcut / program jangka pendek
    .
    2. pada detik-detik terakhir masa jabatan cenderung terjadi berbagai penyelewengan kekuasaan (contoh: pada akhir masa jabatan Bill Clinton).
    .
    Ketika rakyat kuat & tercerahkan, maka sistim monarki bisa membawa kesuksesan luar biasa bagi negara ybs.

  23. @tintin – insyaAllah nanti saya sampaikan salam ke beliau dari Tintin di Surabaya…. πŸ˜€
    .
    @mk – Insya Allah 3 bulan lagi segera release mk jr 1.0
    .
    Wah selamat ya mas. Semoga barokah selalu πŸ™‚

  24. @Anthy – Wa’alaikumsalam wr. wb, terimakasih juga untuk artikel-artikelnya yang sangat bermanfaat bu dokter. Semoga makin banyak yang meniru jejaknya.
    .
    Mengenai perjodohan/tidak, saya setuju sekali. Kedua-duanya bisa baik / buruk, tergantung dari bagaimana kita melakoninya.
    .
    Hanya saja karena ada stigma yang lebih negatif soal perjodohan, maka saya membuat posting ini, yang memberikan contoh sebaliknya.
    .
    Terimakasih sudah berkenan mampir πŸ™‚

  25. Di jaman modern ini semakin banyak orang yang sibuk dengan berbagai hal, sehingga seringkali tidak memiliki waktu untuk membina hubungan khusus dengan lawan jenis. Perjodohan yang baik memang dapat menjadi alternatif yang dapat dipertimbangkan bagi yang serius mencari pasangan.

  26. Hanya saja karena ada stigma yang lebih negatif soal perjodohan, maka saya membuat posting ini, yang memberikan contoh sebaliknya

  27. Ini sangat menarik, di tengah stigma buruk perjodohan, kedua insan, yang secara logika tidak akan kesulitan menemukan peminat dari lawan jenisnya, justru memilih jalur ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *